Sektor Kelautan dan Perikanan Bireuen Terabaikan

Bireuen, (Analisa).Kaum nelayan di sepanjang pesisir Kabupaten Bireuen hingga kini masih menjerit. Pemerintah dinilai belum memberikan perhatian serius bagi sektor kelautan dan perikanan setempat. Buktinya, dari 11 muara (kuala) yang butuh pengerukan, hanya satu yang masih dapat dilintasi boat, itu pun harus menunggu ketika air laut sedang pasang.



"Kami sangat membutuhkan kepedulian pemerintah. Bukan jaring, kail, boat atau rumpon, tapi yang paling kami butuhkan adalah kerja pemerintah untuk membuka akses nelayan di sejumlah muara yang perlahan semakin dangkal," tegas Panglima Laot Bireuen, Badruddin Yunus.


Menurut dia, persoalan kuala dangkal di pesisir Bireuen seakan sudah menjadi tanggung jawab nelayan. Andai pun pernah terdengar rencana pemerintah yang akan mengeruk beberapa muara di Bireuen, akhir-akhir ini seakan hanya sebagai isu yang belum jelas kepastiannya.

"Berita yang kami dengar, tahun 2013 akan ada program besar dari Pemerintah Aceh dan Pemkab Bireuen terkait dengan rencana pengerukan sejumlah kuala dangkal, tetapi yang saya tahu, sejauh ini belum ada realisasi apa-apa. Jangankan rencana pengerukan kuala dangkal, apakah ada paket bantuan untuk nelayan dari Pemkab Bireuen? Saya tidak tahu, atau mungkin tidak diserahkan melalui kami selaku pemangku adat laot," ujarnya.

Begitu pun, dari beberapa informasi yang diterimanya, Pemkab Bireuen melalui dinas terkait akan menyerahkan sejumlah bantuan bagi para nelayan. Namun para penerima merupakan warga dari kelompok-kelompok nelayan yang telah ditetapkan beberapa sebelumnya tanpa keterlibatan lembaga adat di dalamnya.

"Kami merasa lembaga adat laot sama sekali tidak dianggap, buktinya sampai sekarang belum pernah diajak berkoordinasi atau bermusyawarah baik oleh bupati, unsur dewan ataupun pimpinan instansi terkait. Sejujurnya, kami merasa bahwa pemerintah bukan hanya melupakan sektor kelautan dan perikanan, tetapi juga mengabaikan kami dari unsur lembaga adat," ujarnya.

Menurutnya, jika pemerintah peduli pada nelayan, seharusnya sejak dulu sebagian muara di Bireuen sudah mengalami perubahan seiring besarnya harapan warga pesisir agar kuala segera dikeruk. Kenyataannya, saat ini kuala menuju PPI Peudada pun masih menghadapi permasalahan klasik.

Berjalan Kaki

Yang paling ironis menurutnya, akibat muara dangkal, puluhan nelayan dari Desa Kuala Raja, Kecamatan Kuala, setiap hari harus berjalan kaki pulang pergi dari dan ke Kuala Jangka yang jaraknya hampir mencapai 16 km karena boat mereka terpaksa tambat di sekitar mulut Kuala Jangka. Aktivitas itu sudah berlangsung sejak lama.

Seharusnya menurut dia, pemerintah dapat memberikan porsi yang relevan untuk sektor kelautan sehingga nelayan tidak merasa dikucilkan dan pemerintah terkesan hanya memfokus pembiayaan dominan bagi sektor pertanian/agribisnis.

Badruddin terkesan enggan menjawab ketika ditanya seputar kehidupan nelayan, namun dia mengisyaratkan agar wartawan bisa langsung datang dan melihat secara dekat kehidupan warga miskin di pesisir Bireuen, terutama di Desa Alue Buya Pasie, Jangka Alue Bie Pusong dan Pante Paku, Kecamatan Peusangan atau di Desa Ie Rhop, Kecamatan Gandapura.

Menurut data Lembaga Adat Laot Bireuen, nelayan tangkap di sepanjang pesisir daerah itu berjumlah 6.000 jiwa lebih. Dari jumlah itu, terdapat 25 persen nelayan tradisional yang sangat membutuhkan bantuan semisal alat tangkap dan fasilitas lain sebagai pendukung aktivitas mencari nafkah. "Saya perkirakan, bila saja pemerintah bisa memperbaiki 5 dari 11 muara besar di Bireuen, maka sama halnya pemerintah telah membantu hampir semua nelayan di sini," katanya.

Kepala Dinas Keluatan dan Perikanan Bireuen yang dihubungi Analisa terkait tanggapan Panglima Laot Bireuen, sedang tidak berada di tempat. Begitu pun, sekretaris dinas Drs Mukhtar Saleh yang ditanya mengaku tidak punya data terkait program bantuan nelayan.

"Tanya saja kepada kepala dinas, saya tidak punya data tentang itu. Semuanya ada sama kadis. Kebetulan sekarang dia sedang di Bogor dinas luar, mungkin minggu depan dia baru pulang ke Bireuen," ujar Muhktar.(hel)

Comments

Popular posts from this blog

ANEKA PRODUK DAN OLAHAN RUMPUT LAUT

MENGENAL IKAN SIDAT DAN PROSPEKNYA

Pengawetan Ikan dengan Sistim Pengasapan